
Ukhti, ingatkah bagaimana dahulu Allah menyelamatkan kita ke jalan ini?
Mungkin lewat perantara sesungging senyuman yang mengajak kita ke taman syurga
Mungkin diawali dengan mata kantuk yang penuh keterpaksaan
Namun, pada akhirnya kita jatuh cinta
Untuk terus dalam lingkaran penuh berkah
Dan memilih jalan kebenaran, lalu menyusurinya
Ukhti, pernahkah terbayang jika saja itu tidak terjadi?
Mungkin, kita sekarang sedang berjalan dengan busana yang minim
Bersenda gurau dengan para lelaki
Lalu akan menjalani hari tanpa pernah ada arti
Setelah itu kita berakhir, tanpa sedikit pun terkenang
Tanpa sedikit pun yang tersisa
Maka, duduklah sejenak dan kita saling mengingatkan
Bahwa jalan ini dahulu ditempuh oleh para Nabi dan Rasul
Mereka yang bening hatinya
Dan kuat ibadahnya
Yang teramat dekat dengan Rabbnya.
Sementara kita?
Padanglah mata-mata polos itu
Pandangan adik-adik yang penuh takjub pada sosokmu
Sosok yang bagi mereka tanpa celah dan salah
Yang begitu terjaga dengan hijabnya yang kelam
Dengan tutur katanya yang penuh retorika
Tanpa pernah mereka tahu,
Bahwa di saat sendiri
Begitu banyak maksiat, kelalaian dan kesalahan yang kita perbuat
Berapa banyak aib yang masih Allah tutupkan
Prasangka yang tersembunyi dalam hati, pun dengan hitamnya jiwa yang terpoles oleh segala bentuk kemuliaan zhahir
Namun, dimana Allah?
Dimana Allah ketika kelalaian itu kita kecap?
Dimana Allah saat kemaksiatan itu kembali kita ulang?
Dimana Allah saat penyakit hati itu datang menyusup diam-diam, lalu kita pelihara, lalu kita permaklumkan atas segala sisi kemanusiaan dan pembenaran yang kita punya!
Kita tahu, ukhti.. Allah tidak pernah hilang, hanya mungkin, nurani kita yang kadang buta untuk merasakan kehadiranNya.
Lalu jika saja maksiat itu adalah bebauan yang menyengat,
Masih sanggupkah adik-adik itu ingin duduk membersamai kita?
Ah, jika Rasulullah digelari Al Amin sebab semua orang telah mengenal keindahan pekertinya
Maka sesungguhnya, amanah ini dipercaya kepada kita, justru sebab tidak banyak yang benar-benar mengenal siapa kita sebenarnya
Maka, adakah ruang untuk berbangga?
Ukhti,
Cobalah tengok kembali shaf perjalanan ini
Lalu temukanlah bahwa ternyata ada saja bagian kosong yang tidak lagi terisi
Dimana mereka?
Dimana para ukhti yang dulu kita sebut sebagai saudari seperjuangan itu?
Adakah mereka telah tertinggal, lalu terlampau lelah untuk kembali menyusul?
Ataukah mereka telah gugur, dan tidak akan pernah lagi kembali dan turut dalam jalan cahaya ini?
Yah, mereka yang mungkin justru menjadi jalan hidayah bagi kita
Mereka yang mungkin adalah pemilik senyum yang telah membuat kita jatuh cinta
Mereka yang bersama kita meresap setiap tetes hidayah, namun kini entah berada dimana?
Mereka, yang mungkin jauh lebih baik shalatnya, puasanya, ibadahnya, bahkan kebeningan hatinya, namun ternyata tidak lagi dipilih oleh Allah
Lalu perhatikanlah kita
Kita yang mungkin masih terseok untuk menjalani segalanya
Yang kadang harus jatuh dengan teramat sakit, lalu berusaha untuk kembali bangkit
Yang mungkin dengan keimanan yang begitu tipis hingga sangat mudah terombang-ambing
Namun, kita masih di sini
Allah masih memilih!
Lantas, apa lagi yang tidak kau syukuri?
Ukhti,
Terimalah untai kata ini sebagai jejak-jejak kasih
Sebagai tanda bahwa kita adalah satu tubuh
Bahwa kita adalah para batu-bata yang sedang membangun menara cahaya
Bahwa kita sedang mengambil hikmah dari ayat-ayat langit, lalu menebarkannya di bumi
Sebagai sebuah cara, agar kelak kita berada di belakang barisan para nabi dan syuhada
Sebagai salah satu hujjah, agar kelak kita berjumpa denganNya di jannah
Ukhti, tetaplah di sini
Bukankah kau pun ingin, bangunan ini kokoh suatu saat nanti
Denganku dan denganmu sebagai salah satu penyangganya
Meski tanpa kita, kau tahu jalan ini akan selalu terisi oleh jiwa-jiwa yang dipilihNya
Ukhti, maka janganlah beranjak pergi.
*dibacakan dalam Muktamar Forum Ukhuwah Muslimah
Barakallahu fiik; kepada akhwat yang terpilih untuk kembali bersama mendaki pegunungan cahaya, semoga kita dapat sampai di puncak dengan selamat. Semoga kita terus bersemangat, sepanjang usia, sepanjang kita percaya. Ayo, gebyarkan dakwah sekolah! :D
kakak...........
BalasHapusSyukran tas renungannya ^^