Jumat, 20 Januari 2012

malam itu, tiba-tiba...

megalotusFILE; notebook tempat dulu saya menulis puisi-puisi sebelum punya laptop


ini mungkin menjadi puisi pertama yang saya posting untuk kedua kalinya di blog ini. Entahlah, hanya karena ingin saja. Puisi ini dibuat pada 11 Juli 2006 yang lampau, dan memperlihatkan pada saya sendiri, betapa katakata juga ikut bermetamorfosis bersama saya, seiring waktu. Lihatlah pemilihan diksinya yang lebih njlimet! Yah, saat itu, kebanyakan puisi yang saya buat adalah tipe 'puisi kamar' yang memang untuk saya tulis, saya baca, dan saya nikmati sendiri. Jika pun ada orang lain yang membacanya, silakan menikmatinya dengan cara Anda masing-masing, lalu saya merasa tidak penting untuk menjelaskan apapun. Yah, tidak ada pesan yang ingin tersampaikan selain pesan saya padanya saja; kata-kata yang menjadi teman setia untuk curhat, -kau tahu, yang tidak pernah bertanya 'mengapa?' dan tidak suka membocorkan rahasia. Hahaha.., anak muda..

sekarang, puisi menjadi tempat yang cukup nyaman untuk 'menyampaikan'. Untuk hadiah pada hari bahagia siapapun, untuk pesan kepada orang-orang sekitar yang saya inginkan kebaikan atasnya, pun untuk siapapun yang mungkin sedang berteduh pada 'SajakyangBerhamburan' ini. Saya berharap ada 'pesan-yang-sampai', hingga kemudian diksi pun menjadi tidak begitu suka-suka dan (semoga) lebih mudah dipahami. Meski pada akhirnya, saya tahu, ternyata hal itu sedikit banyak telah mengubah cara saya 'bergaul' dengan puisi.

tapi apapun itu, saya tetap menyukai mereka semua. Menyukai puisi-puisi yang saya buat. Karena saat 'menatap' mereka satu per satu, meski mungkin tidak begitu banyak yang tahu -dan mau tahu, saya sadar; saya telah melalui banyak hal, saya telah belajar banyak hal.

dan untuk 'Malam itu Tiba-Tiba...' ini, saya selalu ingat pernah menuliskannya pada sampul buku seorang senior. Buku yang baru ia beli. Buku yang ia minta saya menuliskan namanya di halaman depannya dengan rapi. Buku yang kemudian, ia minta untuk dituliskan puisi untuknya di bagian sampul belakangnya. Saya merindukan dia. Setelah ia melewati 'pertemuan yang mungkin justru menyebabkan lebih banyak perpisahan' itu. Tapi saya dengar, ia baik-baik saja. Mungkin, setelah perpisahan yang banyak, ia ternyata mengalami lebih banyak perjumpaan dengan orang-orang baik lainnya. Semoga. Lewat postingan ini, saya ingin puisi mewakili saya, bahwa: Malam ini, tiba-tiba saya mengingatmu, Kak Aisyah. :')


malam itu, tiba-tiba saja aku ingat pada sebuah perjumpaaan
dan tersenyum saat sadar bahwa kita telah lama jatuh cinta pada subuh dan embun di pucuk daun
dengan tergesa aku tuliskan banyak lamunan dan harap akan nyatanya
katanya,
kita jangan berdusta pada angin yang membawa benih-benih
angin yang menghempaskan dandelion di tanah baru tempat ia kembali merajut cerita
cerita tentang negeri dengan naga dan awan-awan
malam tu, tiba-tiba aku teringat pada sebuah pepisahan
saat kita berkta tanpa kata
walau kita sadar,
telah lama jatuh cinta pada nyanyi angin kala mentari datang.

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. diena...
    i just found you! *dari mana saja saya???
    hehe...
    dan saya brkaca-kaca d blog ini...huu~hu~

    BalasHapus
  3. puisi yang sangat indah.. pencerahan yang tidak kurang indah pula. benarlah puisi itu bisa menzahirkan rasa dalam manifestasi yang lebih indah dan unik. saat merindukan seseorang, ilham ibarat bersatu dengan hati meciptakan kalimat dalam okestra tersendiri..Okestra rindu yang menggegar atma menembus jiwa.. ayunkan saja langkahnya!! biar kita rajut cinta ini dalam langkah-langkah mungil kita.. semoga ikatan kasih sayang ini adalah silaturrahim yang akan mengantarkan kita menuju cita-cita yang agung dan mulia..amin

    BalasHapus
  4. @rabiah; finally, u found me! Hehehe.., Selamat berkunjung, selamat membaaca :D

    @amnishamrah; selalu speechless kalau dicomment sama kak fuzah, senyum aja aah.. :)

    BalasHapus
  5. huaaaa... ^_^ aku mau beli bukunya kak..kapan jalan2 ke Rumah ukhuwah hehe (^ ^)

    BalasHapus
  6. @Puspita Resky; iya dek, adiknya Maya khan? MasyaAllah..sekarang namanya Rumah Ukhuwah yah? Keren... InsyaAllah kapan2 saya ke sana nah, tapi kalau tdk sempat nanti saya titip bukunya sama Maya saja, nanti Maya yg bayarkan toh..Hehehe.. :p

    BalasHapus

Syukran atas komentarnya...