mungkin sebab kita terlalu tergesa untuk menyalakan lentera
sehingga tiba-tiba terperanjat bahwa ternyata senja masih cukup kemilau
untuk kita nikmati cahaya keemasannya
dengan seperti apa ia mampu bersinar
-----
suatu waktu
di saat seharusnya tersenyum
ada takut yang tiba-tiba datang
ada perih yg seketika menjerap
pada sebuah kemungkinan
pertemuan yang akan menjadi mula dari lebih banyak perpisahan
-----
tapi jiwa ini rapuh
perahu kertas yang kemarin kau hanyutkan
telah basah sempurna dan tenggelam
dan langit hanya dapat menaunginya seperti kemarin
memandangnya dalam luka
dalam duka
------
ibu bilang
hatimu keras
tapi kau tahu
itu dari luarnya saja
selebihnya ia dapat patah seketika
bukan oleh siapa-siapa
bukan pula oleh prasangka
tapi olehnya dirinya saja
saat ia menghimpun kata-kata di hadapannya
agar menyulam diri menjadi sehelai sapu tangan
sudikah bantu resapkan air mata?
(Januari, 19 '12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Syukran atas komentarnya...