
Sudah sejak awal kita menikmati datangnya senja
Di sebuah sudut ruangan, di rumah Allah
Setiap Jum’at
Kita tunggu hadirnya dia yang datang dari tempat yang jauh
Habiskan masa diperjalanan untuk bertemu dengan kita, walau hanya sejenak, menghabiskan tanya di kepala-kepala yang berusaha menemukan tempatnya
Dan nuansa itulah yang memesona kita
Hingga berlanjutlah langkah kepada pertemuan-pertemuan selanjutnya
Tak peduli pada lidah yang kelu karena terbata mengeja ayat-ayat
Tak peduli pada kain kecil penutup kepala yang sesekali dihembus angin sore
Diterangi sinaran lembut dari mentari di ujung tugasnya
Ada sebuah mata air di hatimu
Saat kau sematkan namamu dengan mata air syurga itu
Sebuah kehangatan tercipta di sana
Mungkin setelah ditempa oleh panas membara, namun tak jua dapat menghanguskan,
Hingga dapat dengan tenang kau berucap,
”Mengapa harus kau bertanya, tak percaya lagikah pada takdir Allah?”
Perjalanan suci kau lalui
Menuju tanah dambaan setiap hamba yang memasrahkan diri
Titip doa untuk semua harap yang hanya terhenti di ujung bibir,
Ceritamu,
”Suatu hari seorang kakek tua menhadiahkan mushaf, lalu menghilang dalam satu kejapan mata”
Mungkin itulah pertanda, bagimu, bagiku
Bahwa hanya dengan petunjuk itu, hidup inipun akan berlalu dengan lurus
Sebuah mata air bermula di hatimu
Mungkin kadang menjadi kering sebab memang tak ada yang mampu menjamin
Tapi ia akan tetap ada di sana
Menunggu musim berganti
Beku jelmakan hangatnya
Sendu jelmakan riangnya
Hadirkan kembali sinaran yang mengubah tangis menjadi tawa
Menyejukkan segenggam bara yang kadang sejenak ingin kita tanggalkan
Menyejukkan hatimu,
Mata air dari jannah,
Salsabila.
Untuk Kak Bet..., lunasmi nah...!
19 Januari 2010
Di sebuah sudut ruangan, di rumah Allah
Setiap Jum’at
Kita tunggu hadirnya dia yang datang dari tempat yang jauh
Habiskan masa diperjalanan untuk bertemu dengan kita, walau hanya sejenak, menghabiskan tanya di kepala-kepala yang berusaha menemukan tempatnya
Dan nuansa itulah yang memesona kita
Hingga berlanjutlah langkah kepada pertemuan-pertemuan selanjutnya
Tak peduli pada lidah yang kelu karena terbata mengeja ayat-ayat
Tak peduli pada kain kecil penutup kepala yang sesekali dihembus angin sore
Diterangi sinaran lembut dari mentari di ujung tugasnya
Ada sebuah mata air di hatimu
Saat kau sematkan namamu dengan mata air syurga itu
Sebuah kehangatan tercipta di sana
Mungkin setelah ditempa oleh panas membara, namun tak jua dapat menghanguskan,
Hingga dapat dengan tenang kau berucap,
”Mengapa harus kau bertanya, tak percaya lagikah pada takdir Allah?”
Perjalanan suci kau lalui
Menuju tanah dambaan setiap hamba yang memasrahkan diri
Titip doa untuk semua harap yang hanya terhenti di ujung bibir,
Ceritamu,
”Suatu hari seorang kakek tua menhadiahkan mushaf, lalu menghilang dalam satu kejapan mata”
Mungkin itulah pertanda, bagimu, bagiku
Bahwa hanya dengan petunjuk itu, hidup inipun akan berlalu dengan lurus
Sebuah mata air bermula di hatimu
Mungkin kadang menjadi kering sebab memang tak ada yang mampu menjamin
Tapi ia akan tetap ada di sana
Menunggu musim berganti
Beku jelmakan hangatnya
Sendu jelmakan riangnya
Hadirkan kembali sinaran yang mengubah tangis menjadi tawa
Menyejukkan segenggam bara yang kadang sejenak ingin kita tanggalkan
Menyejukkan hatimu,
Mata air dari jannah,
Salsabila.
Untuk Kak Bet..., lunasmi nah...!
19 Januari 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Syukran atas komentarnya...