Jumat, 22 Januari 2010

Sajak Permintaan Maaf


Tergugu kutatap sajakmu
Sebab lewat kata-kata itu
Terlintas betapa topeng ini terlampau tebal dipancangkan
Saat Dia dengan penuh kasihNya menutupi segala bercak-bercak hitam yang tersembunyi dalam jiwa
Dan menampakkan berkas-berkas cahaya redup yang kadang kau lihat nampak cerah

Maaf, ukhti
Jika saat bersamamu memang hanya itu yang bisa terucap
Untaian kata-kata indah yang tercomot dari otak yang hanya bisa merangkai huruf
Kadang kulirik dari kitab suci
Atau kucuri dengar dari perkataan Sang Nabi
Tapi ternyata,
Seringnya justru aku yang mengkhianati sajak itu sendiri

Maaf ukhti,
Jika saat maksiat memang tak berada kau di sini
Mungkin saat aku sendiri
Terlupa betapa tengah dilihat aku oleh Sang Maha Melihat
Telah tercatat oleh kedua sahabat karib di sisi kiri dan kanan
Namun tak nampak olehmu
Hingga binar-binar pengharapan nampak benderang dari matamu
Saat menatapku
Menatapku dengan topengku

Maaf ukhti,
Jika ternyata suatu hari telah kujerat awan-awan hitam dari langit dengan nuraniku sendiri
Kuciderai dengan lisan yang berkata kelam
Atau mengucap yang benar
Namun tak diteruskan, hanya hingga bibir saja

Maaf ukhti,
Jika bersamamu ternyata aku malu
Jika bersamamu kurasa bersalah diriku, kurasa kerdil pribadiku
Sebab kulihat
Itu amalmu
Sementara aku
Tidak sepertimu


”Saat seolah duduk di hadapan seseorang yang menyiramiku dengan ilmu, mengguncangkanku, mengingatkanku pada sajakmu tadi pagi. Meski kami tak pernah bertemu. Jazakallahu khair...”
23 Januari 2010


sumber gambar:

http://wicakz.multiply.com/photos/album/148/wicakz_photoworld_hunting_di_braga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syukran atas komentarnya...