Rabu, 06 Januari 2010

Mungkin, Lebih Baik jika Kau Tak di Sana


Aku pernah berpinta
Agar tak usah lagi jumpa dengan siapa yang tak berguna
Salain membuat lagi goresan luka baru di atas luka yang dulu ingin kau lihat

Karena itulah
Lebih baik jika kau tak di sana
Dan akhirnya tidak perlu kulihat seumur hidup
Sebab darimu aku belajar untuk tidak mengaucap kata tanpa makna
Sebab akan sakit akhirnya
Mungkin, dapat membunuh seseorang
Atau paling tidak membunuh sendiri pengucapnya

Lihatlah!
Aku telah berani menulisku
Aku telah berani menulismu
Kau yang tak pernah berpikir tentang itu

Mengapa pula harus habis tinta
Habis masa
Habis rasa
Habis kata
Habis segala yang mungkin lebih baik jika disimpan saja

Tapi kata ternyata belum habishabisnya
Sisakan aku yang hanya bisa menceracau
Ditertawakan oleh takdir

Ya, bukankah telah kau ajari untuk tak sembarangan mengucap?
Seharusnya akupun tahu untuk tak pula sembarangan berpinta
Doa yang telah beranjak dari kaki langit
Kini telah didengarNya
Mungkin sedang dikabulkanNya


6 Januari 2009

Ini puisi orang marah...
Ah, rupanya memang sama sekali tak indah!

4 komentar:

  1. la taghob...la taghob..la taghob...
    ya..walaupun emosi itu seringkali menimbulkan ide krn sensitifitas meninggi tapi jg hrs dikendalikan..

    but, over all, diksinya bagus

    BalasHapus
  2. Wah, makasih nih apresiasinya. Syukran sudah diingatkan. Marahnya jadi reda deh..

    BalasHapus
  3. sama siapa ki marah??? hemmm....kerennya di,, biar marah bisa tercipta puisi yang keren..masya alloh..ajar dong ^^

    BalasHapus
  4. @akumuslimah; ada tong... rahasia bede skali2.. ndak kita kenalji orgnya ukh, ndak pentingji juga kayaknya (mulai marah lagi....tarik napas...marah mereda...). Khan ndak enak toh kalo saya labrak langsung, kesannya gak berilmu banget gitu..hehehe! Jadi mendingan saya bikinkan puisi (enaknyami itu org, sudah bikin marah, dibikinkan lagi puisi!) tapi janganki bikin marahkan supaya saya buatkan puisi nah..., jadinya ndak keren..

    BalasHapus

Syukran atas komentarnya...