
Kata-kata, mari sini sebentar
Sulamkan dirimu menjelma sehelai sapu tangan
Resapkan tiap lelehan bening dari kedua pelupuk yang berair
Sehingga dapat kukantongi tangis
Dan kembali membuat segalanya mengembangkan seulas tawa dan memoles senyum pada bibirnya
Suatu hari,
Saat kutanggalkan pakaian perang
Dan mengucap ijin pada prajurit lainnya
Tapi, anggukan kalian, ukhti
Justru berbuah gores merah pada lembutan rasa di jiwa
Allah, jangan palingkan aku dengan episode penuh gemuruh yang semakin memperlihatkan wujudnya!
Kita telah bersama melihat sebuah pintu cahaya di penghujung sana
Melangkah pada jalan tanpa rerimbun bunga dan kupu-kupu
Tapi, telah nyata bahwa kita terpesona!
Namun, kulihat pula ada pintu paling tengah untuk memasukinya
Kugapai-gapai meski dengan nafas tersengal sebab ternyata kadang terasa sesak
Kadang tak tertahankan
Maka kata-kata,
Mari sini barang sebentar saja!
Tuntunlah jemari untuk membelai jiwanya sendiri
Untuk menyeka sedihnya pribadi
Karena dengannya aku akan terus bertahan
Hingga semuanya terlewatkan
Saat waktunya telah datang
"Mana senyumnya? Ayo, kuatkan wajah murung yang terpantul di kaca! Semuanya akan baik-baik saja, khan?"
Sulamkan dirimu menjelma sehelai sapu tangan
Resapkan tiap lelehan bening dari kedua pelupuk yang berair
Sehingga dapat kukantongi tangis
Dan kembali membuat segalanya mengembangkan seulas tawa dan memoles senyum pada bibirnya
Suatu hari,
Saat kutanggalkan pakaian perang
Dan mengucap ijin pada prajurit lainnya
Tapi, anggukan kalian, ukhti
Justru berbuah gores merah pada lembutan rasa di jiwa
Allah, jangan palingkan aku dengan episode penuh gemuruh yang semakin memperlihatkan wujudnya!
Kita telah bersama melihat sebuah pintu cahaya di penghujung sana
Melangkah pada jalan tanpa rerimbun bunga dan kupu-kupu
Tapi, telah nyata bahwa kita terpesona!
Namun, kulihat pula ada pintu paling tengah untuk memasukinya
Kugapai-gapai meski dengan nafas tersengal sebab ternyata kadang terasa sesak
Kadang tak tertahankan
Maka kata-kata,
Mari sini barang sebentar saja!
Tuntunlah jemari untuk membelai jiwanya sendiri
Untuk menyeka sedihnya pribadi
Karena dengannya aku akan terus bertahan
Hingga semuanya terlewatkan
Saat waktunya telah datang
"Mana senyumnya? Ayo, kuatkan wajah murung yang terpantul di kaca! Semuanya akan baik-baik saja, khan?"
21 Januari 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Syukran atas komentarnya...