Minggu, 04 September 2011

untuk Aafiyah


bagaimana dunia, Aafiyah?
bukankah ia adalah dominasi merah muda
bersama gelembung-gelembung sabun yang bening
meletus di atas ponimu
lalu kau tertawa
hari-hari selalu cerah

tidak usah risau, Aafiyah
pada masa depan Ayah dan Bunda
sebab segala yang tertakdir telahlah benar
kelak, mengertilah bahwa haruslah kita terima
haruslah kita ikhlaskan
namun saat ini,
tersenyumlah seperti biasanya, cinta

sebab akan selalu ada cahaya meski kelam telah pekat
walau hanya setitik dengan pendar yang buram
bahkan kini, ia masih saja dipandang benderang selayaknya bulan baru di tengah malam
maka nikmati saja
biarkan esok kau terjaga dari tidur nyenyak-mimpi indah
dan dunia tetaplah merah muda
cerah
dan kau suka
(September, 4 '11)

Minggu, 28 Agustus 2011

Laki-Laki dalam Mimpi


ada yang diam-diam masuk dalam mimpi

lelaki yang baru saja berkata lewat baris-barisnya

kupikir itu tentang masa lalu

kupikir itu tentang rindu


ada sedikit luka di sana

lelaki dalam mimpi muncul tiba-tiba

mengajarkan tentang masa depan

dan jalan yang selama ini tidak pernah terinjak

pijakan-pijakan di bumi yang berbeda

tapi, bukankah di sini selalu lebih indah?


lelaki dalam mimpi muncul di malam ganjil

saat terjaga, sadarlah ia

mungkin ini bukan apa-apa

mungkin ia tidak pernah ada

(Ramadhan, 29 '11)


Kamis, 07 Juli 2011

jauh


Bukankah perjalanan seperti ini yang duhulu pernah ditunggu

Seorang teman berkata,

Saat kita pergi bukan untuk menjauh

Tapi agar terlihat siapa yang peduli untuk mendekat

Di tanah ini

Ada hamparan sawah yang menyambut pagi dan matahari

Malamnya adalah kerlip kunang-kunang yang baru kita lihat

Baguslah,

Saat rindu kini terbentang oleh jarak yang lebih jauh

Sementara hening menjadi begitu mahal

Sebab tidak semua orang menyukainya

Biarlah saja

Kita belajar kata-kata dari mulut mulut mungil yang takjub pada berbagai macam benda-benda yang jarang mereka lihat

Tapi kita pun banyak tidak memiliki apa yang mereka punya;

Itukah kejujuran?

Itukah ketulusan?

Itukah senyuman yang datang langsung dari hati pemiliknya?

Tapi di sini pun rumah-rumah Allah ternyata terikut sunyi

Kecuali oleh para pemilik keriput yang memang sudah merasa dekat masanya kembali

Mungkin, sebab itulah kita harus berbagi

Untuk membawa cerah pada setiap sudut

Untuk menyadarkan bahwa bukan kita pemilik hidup

Kita masih terus melangkah

Sesekali meningkahi suara adzan dari menara

Yang terbawa angin melintasi rerimbun daun ubi di halaman

Sementara selalu terpendam tanya

Bagaimanakah ujung perjalanan ini nanti akhirnya?

(Soppeng, Marioriawa-Batubatu. Hari ke-11 KKN, 4 Juni 2011)

gambar:devianart.com

Senin, 13 Juni 2011

Kata Selepas Senja


di senja yang megah itu

sungguh,

aku tidak peduli bagaimana cara mereka menginjak-injak puisi

sebab sudah terlalu lama kami membersamai

meski aku menyahut dan ia hanya mengangguk

tak mengapa,

itu saja


maka biarkanlah kuterbangkan selembar sapu tangan yang tertiup angin sebagai tanda perpisahan

sebab memang tidak dapat kita paksakan takdir yang sudah sejak lama tertuliskan

lalu memilih untuk tetap menatap lepasnya senja, bahkan meski kita sangat mencintainya


biarlah saja,

kita nikmati rembulan dari kejauhan

sebab aku khawatir

memandangnya dari dekat akan mengubah senyum di wajahmu

saat kau sadar, ia tidak seindah yang kau kira.

gambar: devianart.com

Jumat, 10 Juni 2011

bagaimana bahagia, bahagia bagaimana


Seperti apakah disebut bahagia?

Apakah saat pagi hari mata kita sanggup terbuka dari pejamnya?

Atau waktu mentari mampu menyinari tanpa terhalang oleh awan mendung yang mengandung hujan?

Entahlah.




Kapankah bahagia?

Mungkin waktu Bung Karno berhasil membaca proklamasi di sebuah hari di Agustus yang telah terlewat

Dan menuntaskan sisa perjuangan Cut Nyak Dien, Bung Tomo, atau para pendiri Serikat Dagang Islam

Melepaskan diri dari belenggu para kumpeni berhidung mancung berambut pirang, dan bangsa bermata sipit berkulit putih Jepang

Konon, mereka beratus tahun telah memaksakan romusha dan penindasan di negeri kita


Mengapa disebut bahagia?

Apakah karena telah berhasil bertambah panjang nama sebab titel-titel setelah kuliah bertahun lamanya?

Atau sebab sukses mengguna baju seragam untuk sebuah instansi dengan gaji tinggi dan fasilitas mewah?

Atau karena selalu disambut hormat dan bungkukan badan karena telah sampai pada derajat pejabat?


Bagaimana bahagia?

Mungkin seperti saat Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan oleh Rasulullah

Atau waktu Makkah berhasil ditaklukkan

Atau saat para ilmuwan meletakkan berbagai dasar-dasar ilmu di Andalusia

Ataukah saat Ka’ab bin Malik dikabarkan tentang diterimanya pertaubatannya sebab mangkir dari jihad?

Nikmatilah hari yang paling indah sejak kau dilahirkan...


Itulah bahagia,

Saat kita bersama saling menegur saat tersalah

Waktu salah seorang dari kita merasa sedikit nyeri, namun bersedia memperbaiki kekhilafan

Waktu kita saling menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran

Hingga di sanalah bahagia

Saat langkah telah sampai di pintu jannah


(Masjid Telkom, Juni 1o ’11)

*Buat Niniek Sannang yang dirindukan.

gambar: devianart.com

Senin, 06 Juni 2011

percakapan

Seorang istri menatap daun yang berguguran

Ia dapati reranting dan daun kering yang saling melupakan

Setelah kebersamaan berbagai musim yang telah lewat

Lalu ia bertanya kepada lelaki-nya;

Wahai imamku,

Jika aku telah tiada

Secepat itukah kau akan lupa?




Maka lelaki itu menatap mata istrinya, teduh

Bagaimana bisa,

Ucapnya dengan lembut

Aku lupa pada wanita yang pertamakali mengajariku cinta



Lalu sang lelaki melihat awan yang berarak, pergi meninggalkan langit tempatnya menggelantung sebelumnya

Menuju potongan langit lain tempat ia kembali meneduhkan

Lalu ia bertanya kepada wanita-nya

Wahai bidadari,

Jika nanti aku pergi

Apakah sosokku akan tetap dalam ingatmu?




Maka wanita itu menatap mata suaminya, lembut

Bagaimana mungkin,

Ucapnya tanpa ragu

Aku berhenti mengingat pria yang ridha-nya adalah jannah


Lalu keduanya terinsyaf kepada perpisahan

Yang selalu membersamai takdir perjumpaan

Tapi setelahnya

Akan selalu ada kenangan

Dan rindu yang dapat menyeruak kapan saja

(6/6/2011)

Kado pernikahan untuk Kak Sakinah Dewi Fitriana di hari bahagianya, 4 Juni 2011. ^_^
Afwan, terlambat Kak! >_<