
di senja yang megah itu
sungguh,
aku tidak peduli bagaimana cara mereka menginjak-injak puisi
sebab sudah terlalu lama kami membersamai
meski aku menyahut dan ia hanya mengangguk
tak mengapa,
itu saja
maka biarkanlah kuterbangkan selembar sapu tangan yang tertiup angin sebagai tanda perpisahan
sebab memang tidak dapat kita paksakan takdir yang sudah sejak lama tertuliskan
lalu memilih untuk tetap menatap lepasnya senja, bahkan meski kita sangat mencintainya
biarlah saja,
kita nikmati rembulan dari kejauhan
sebab aku khawatir
memandangnya dari dekat akan mengubah senyum di wajahmu
saat kau sadar, ia tidak seindah yang kau kira.
gambar: devianart.com
lagi dan lagi....paaaasss bangeeett..kayax qta bisa baca pikiran orang di'...heehee...
BalasHapusoh ya? masa sih kak? itu namanya heart-connection.. hehehe ^_^
BalasHapussenja kayaknya akan selalu menjadi inspirasi yang asik untuk menulis.
BalasHapuskarena senja punya ceritanya sendiri.
salam