
:untuk Asma Nadia
pada yang lampau
aku tiba-tiba menangis di atas selembar puisi
saat tersadar
ada yang hilang
dan entah kapan ia akan kembali datang
ada yang luka
bilakah ia 'kan kering dan tersembuhkan?
saat kutatap mata ibu
dan fragmen kakak yang merangkulnya
air mata yang tertahan di pelupuk adik yang membisu
aku menatap nanar pada diding hijau dengan lantunan paling sendu
dalam pada itu
kita tahu;
inilah sejatinya badai yang memporak-porandakan
bukan di laut yang paling biru
tapi di hati yang paling dalam ini
bertahun berlalu masa
tersimpan tanya seorang sahabat;
mengapa hari itu aku menangis begitu hebat?
lalu saat kubaca tuturmu dalam lembaran-lembaran
sadarlah bahwa luka itu kembali kau kuak
mungkin,
untuk mencoba menyembuhkannya
dapatkah?
susah sgt menymbhkn luka pd hati, bth wktu agar dpt merajut benang2 tuk menutupi lukaitu, namun tetap saja, akan meninggalkan bekas, jejak cerita wlo telah mncoba membuatnya lbh baik,,,
BalasHapusLuka? mungkin tak dapat hilang dan akan selalu membekas karena dalamnya?
BalasHapustapi... buatlah ia seperti sakit yg lain,
tak ada bekas dan hilang selamanya...
dapatkah? :)
BalasHapusLuka itulah yang nantinya akan memanusiakan kita. Karena tanpa luka, manusia tidak akan pernah belajar tentang bagaimana rasanya sakit itu.^^
BalasHapus@all: terimakasih untuk semua komentarnya. terima kasih sudah berkenan membaca. :)
BalasHapus