
"Lihat dia!"
"Siapa? Gadis itu?"
"Ya, kasian dia..."
"Ada apa? Bukankah dia nampak baik-baik saja?"
"Dia terlalu lama mengambil jeda. Hingga akhirnya kehilangan semangatnya sendiri.."
"Bukan. Menurutku dia terlalu lama memandang ke belakang. Melihat ke masa lalu. Lalu menemukan kesalahan yang menjadi langkah awalnya dulu. Sayang, perjalanannya sudah terlalu jauh.."
"Begitulah dia. Sekarang sibuk dengan pikirannya sendiri..Dia menatap kawan seperjuangannya dulu sambil bergumam-gumam; bukankah menyakitkan? Dulu menatap ketaatanmu dari jauh, kini hanya dapat melihatnya pada masa lalu... Padahal kita bersama masa itu, namun kini kau tidak lagi berjalan sebaris denganku..."
"Sebenarnya tidak mengapa ia memikirkan itu..."
"Iya, tapi jedanya kini tak lagi sejenak. Terlalu lama sehingga ia terengah-engah untuk memulai kembali segalanya..."
"Atau bahkan ia khawatir bakal menjadi seperti rekan seperjuangannya yg pergi itu?"
"Entahlah. Tapi sepertinya ia masih mengusahakan diri, untuk perkara itu, sepertinya masih bisa ia menguatkan diri...Tapi ia sendiri tau, bahwa hidupnya bukan hanya melulu tentang satu masalah saja. Masih banyak hal lain yang perlu ia selesaikan. Segera!"
"Tapi bukankah memang jiwanya tidak pernah disana?"
"Ya, benar.. Tapi ia telah memilih, seberapapun sebelumnya ia terpaksa, akhirnya ia sendiri yg memutuskannya, dan ia harus mempertanggungjawabkannya!"
"Aku rasa, dia tau betul tentang itu..Dia hanya butuh waktu.."
"Ya, tapi sebaiknya tidak terlalu lama. Aku khawatir ia akan tergoda pada hal-hal lain yang sesuai dengan jiwanya, lalu lupa pada pengorbanannya yang telah memasuki tahun kelima."
"Seperti semua hal yang telah dia lalui. Saat dia telah memulai, maka dia pula yang akan menyelesaikannya. Bagaimana pun caranya."
"Semoga saja.."
"Tapi, kawan. Siapa sebenarnya dia? Gadis itu?"
"Lho? Dia itu yang menulis perbincangan ini..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Syukran atas komentarnya...