Jumat, 10 Juni 2011

bagaimana bahagia, bahagia bagaimana


Seperti apakah disebut bahagia?

Apakah saat pagi hari mata kita sanggup terbuka dari pejamnya?

Atau waktu mentari mampu menyinari tanpa terhalang oleh awan mendung yang mengandung hujan?

Entahlah.




Kapankah bahagia?

Mungkin waktu Bung Karno berhasil membaca proklamasi di sebuah hari di Agustus yang telah terlewat

Dan menuntaskan sisa perjuangan Cut Nyak Dien, Bung Tomo, atau para pendiri Serikat Dagang Islam

Melepaskan diri dari belenggu para kumpeni berhidung mancung berambut pirang, dan bangsa bermata sipit berkulit putih Jepang

Konon, mereka beratus tahun telah memaksakan romusha dan penindasan di negeri kita


Mengapa disebut bahagia?

Apakah karena telah berhasil bertambah panjang nama sebab titel-titel setelah kuliah bertahun lamanya?

Atau sebab sukses mengguna baju seragam untuk sebuah instansi dengan gaji tinggi dan fasilitas mewah?

Atau karena selalu disambut hormat dan bungkukan badan karena telah sampai pada derajat pejabat?


Bagaimana bahagia?

Mungkin seperti saat Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan oleh Rasulullah

Atau waktu Makkah berhasil ditaklukkan

Atau saat para ilmuwan meletakkan berbagai dasar-dasar ilmu di Andalusia

Ataukah saat Ka’ab bin Malik dikabarkan tentang diterimanya pertaubatannya sebab mangkir dari jihad?

Nikmatilah hari yang paling indah sejak kau dilahirkan...


Itulah bahagia,

Saat kita bersama saling menegur saat tersalah

Waktu salah seorang dari kita merasa sedikit nyeri, namun bersedia memperbaiki kekhilafan

Waktu kita saling menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran

Hingga di sanalah bahagia

Saat langkah telah sampai di pintu jannah


(Masjid Telkom, Juni 1o ’11)

*Buat Niniek Sannang yang dirindukan.

gambar: devianart.com

2 komentar:

Syukran atas komentarnya...