Selasa, 26 April 2011

kepada kakak


kepada kakak di pulau seberang

kita tahu tentang kata yang teramat jarang

namun, entahlah

sebab kali ini aku telah tak lagi tahu kepada siapa harus menyampaikan pesan

mungkin, sudah dekat saatnya harus kutuliskan wasiat?


kakak,

di sini musim begitu cepat berubah

kemarin, matahari masih mengantarkan cerah, lembut sekali

tetapi seketika hari ini hujan saling berkejaran seperti anjing dan kucing

turun seperti jempol-jempol

jatuh di permukaan bumi, dan meresap ke perut bumi


kau tahu,

saat terkadang aku merasa begitu tidak berarti

mungkin salah jika selama ini terus kutelusuri tentang hidup yang selurusnya

hingga kudapati hidupku, hidup kita yang memang sangat terasa terlalu berliku

sejak kecil

waktu tangis adalah sendiri sebelum tidur

waktu takdir menyuruhku mengusap air mata sendiri,

menegar-negarkan diri sendiri

membelai rambutku sendiri

hingga tangis henti dan tertidur

lalu menyembunyikan mata dengan senyum palsu

demikian berhari-hari tanpa ada yang tahu


kakak,

sejak dahulu

aku telah mengerti

hanya di atas sajadah itu

dan di atas berlembar kertas dan pena yang selalu menemani

hanya di sana dapat tumpah segala

tanpa harus khawatir seseorang mendesak dalam tanya

"kenapa?

bukankah harimu nampak cerah?"

ah, mereka hanya tidak tahu saja!


kakak,

aku menangis lagi.

(April, 27 '11)


gambar:devianart.com

2 komentar:

  1. sering sekali merasakan hal yang sama, Dien... dan tak tahu kemana harus mengadu,, seseorang yang kupanggil kakak itu telah pergi :(

    BalasHapus
  2. Sitra sayang, pasti rasa rindu pada kakak selalu seiring dengan doa agar jalan beliau dimudahkan di'sana'. Aamiin...

    Lalu kita telah tahu, kemana seharusnya kita mengadu. PadaNya, khan? ^_^

    BalasHapus

Syukran atas komentarnya...