Senin, 08 Maret 2010

Perjalanan


senja belum lagi sempurna merekah jingga
saat kukatupkan bibir rapat-rapat menahan langkah yang terseret oleh masa yang tak ingin menunggu barang sebentar saja
lalu memulai kembali perjalanan yang membelah hari-hari dengan caranya sendiri

di sudut sebuah jalan,
berdiri seorang lelaki tua dengan deret daun-daun yang tidak kumengerti maknanya
mungkin ia sedang mengais rejeki untuk anak dan istri di rumah
sambil berharap seseorang menghentikan kendara

di satu sisi yang lain
menara sayup-sayup memantul-mantulkan seruannya kepada langit
sementara mereka masih terlelap dalam istirah siang masing-masing
seolah lupa bahwa seorang kawan telah bernasihat,
bukan di sini tempatnya
nanti saja, di syurga.

lalu di suatu titik
anak-anak bersenda gurau dengan senyum manis
berteriak tentang mainan warna-warni atau sejumput manisan yang lambungkan harapnya sore itu
sebab esok baginya adalah cahaya bersinar-sinar yang belum pasti datangnya
sementara kau terlampau sibuk merangkai imaji
seolah telah tahu di mana nanti umur akan terhenti

dalam sebuah perjalanan panjang
jiwa jiwa hanya terdiam menyusuri jalan
tapi mataku telah terlampau lelah bergumul dengan masa
aku akan segera tiba di sana
ke rumah tempat aku pulang
(maret, 9 ’10)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syukran atas komentarnya...