Senin, 25 Oktober 2010

Rabu, 13 Oktober 2010

Kunangkunang


jalan kita terserak oleh waktu
saat sinar siang memberi tahu
kau yang diseberang dahulu, masih saja di sana
sementara aku telah lama mencukupkan diri tanpa harus memaksa mengerti
bahwa tak ada dari kita yang akan mundur
sebagaimana tak satupun yang ingin maju lebih dahulu

tapi kau selalu merasa berpunya
aku pun memiliki hal yang sama
lalu tanpa sadar masing-masing kita memelihara kunang-kunang yang nampak benderang
tapi bukankah pekatnya kelam masih menjadi pemenang?

wahai kau...
sudikah kiranya pinjamkan seikat puisi
sebab ini aku
tak lagi punya kata untukmu.
(October, 13 ’10)

postingan GeJe di waktu sore, hehehehe...
gambar:http://remaja.suaramerdeka.com/wp-content/uploads/2010/01/kunang.jpg

Selasa, 12 Oktober 2010

Sekotak Teh di Kursi Taman


ia menatap akhir hari yang tertutup kemuning senja
sesekali menyisir alisnya yang berkerut sebab terkadang tidak sejalan ucap hati dan ilmu yang telah terpatri
hari ini telah jelas bahwa segala rencana tak selalu membersamai perjalanan ini

dari sebuah kursi taman yang menderit
ia menatap lelaki, menggenggam kotak merah muda
hari ini, tak jadi ia pindahkan ke tangan wanitanya

dalam sekotak teh yang sejuk
pandangi seorang bocah, memainkan jemari di atas tanah
sebab hari ini harta ayah tak cukup untuk mendudukkannya di bangku sekolah

sekotak teh di kursi taman
saksikan pemuda berjalan lelah
menggumam menyusun kata dalam jiwa
“ibu, tak sempat ragaku temukan tempatnya, esok kembali aku akan berusaha, lalu pulang dengan sepintal asa”

tapi hatinya belum jua temukan cahaya
hingga seorang panglima puisi berdiri di hadapan
ia bernasihat,
“sebab titah langit telah jelas, maka bersatulah dengan kehendakNya saja!”

(October, 12 ’10)
Baiklah, waktunya menjalankan plan B! Never give up.

Senin, 13 September 2010

Sebelum Hujan Berhenti


sebelum tetes hujan yang paling akhir
aku teringat pada sosok gadis kecil dengan sepotong kain segitiga putih menutupi kepalanya
berjalan melewati hujan dengan paying biru muda
melompati kubangan
lalu berhenti sejenak mengulurkan tangan,
“hujan, jangan berhenti sekarang”

dan hujan turun bersama sajak yang berhamburan
membawa berbagai cerita tentang perjumpaan
saat subuh, dengan senyum pertamanya
diberanda masjid, saat ia palingkan wajah
juga lewat untaian kata, saat ia tertegun, mengetahui namanya disebut dalam sebuah doa, dengan air mata.

sebelum hujan terhenti
dalam sebuah bulan suci
ia tiba-tiba disergap rasa takut untuk kembali
lalu bagaimana dengan hutangnya?
bagaimana dengan janjinya?
bagaimana dengan ilmu dan segala laku yang beraroma khilaf?
bagaiamana dengan semua yang sepatutnya nanti akan dipertanyakan?
akankah sanggung ia jawab tanpa terbata?
entahlah

dalam sebuah perjalanan panjang
dititipkannya pesan pada sajak
“sampaikanlah berita pada seorang kawan, jika aku tiba-tiba pergi, mohon tengadahkanlah tanganmu ke langit, mohonkan untukku doa, agar langkah ini tak terlampau berat terasa.”

dan hujan pun pada akhirnya akan terhenti
layaknya juga semua perjalanan dengan tujuannya
serta hidup yang akan ditutup
tanpa pernah kita tahu
kapan tiba masanya.
(September, 12 ’10)

*puisi ke-111, alhamdulillah...

gambar:http://static.desktopnexus.com/thumbnails/57522-bigthumbnail.jpg

Rabu, 25 Agustus 2010

Sebenarnya, Aku Hanya Rindu


pada sebuah perjumpaan hangat di pagi hari
saat sinaran mentari menemani langkah cepat kita
menapaki satu demi satu anak tangga
sedikit terengah melepaskan tali sepatu dengan sekali hentakan
lalu berlari dengan senyum yang telah siap di sunggingkan
"assalamu alaikum, saudariku!"

aku hanya rindu
untuk duduk-duduk di beranda
menatap sepotong langit biru
di kali lain ia terlihat kelam
lalu kita ulurkan tangan
menyambut bulir-bulir hujan yang turun satu-satu
yang lain tetap duduk beralas sarung kotak-kotak
selanjutnya ia memanggil,
"majelisnya akan dimulai sebentar lagi!"

aku hanya rindu
menarikan jemari pada selembar kain pemisah berwarna biru
terbentang dengan teguh
bersama lemari kayu
bersama lipatan mukenah itu
bersama lantai-lantai yang sejuk
sang hijab menjadi saksi
dulu kita berkumpul di sana
kini kita berkunjung kembali
suatu saat,
di tempat yang lebih baik kita bertemu lagi.
(Agustus, 26 '10))

Minggu, 22 Agustus 2010

ada yang sedang jatuh cinta


di sudut sana
ada yang sedang jatuh cinta
memancar-mancar benderang dari tutur katanya
terlihat dengan jelas lewat goresan pena

sementara itu
hati yang lainnya telah lama jatuhnya
sekarang,
ia memilih untuk diam dan menyimpannya hingga tak ada yang mampu mengendus
sesekali ia bisikkan pada kata-kata
kata-kata bersembunyi dalam rangkaian sajak
sementara sajak terlalu sejati untuk berdusta
disimpannya semua rahasia
disimpannya semua rasa

di sudut sana
ada yang sedang jatuh cinta
dik, kemari sebentar
kunasihatkan untuk tak terlalu lama berdiam di sana
sebab kata orang
yang kau alami memang bukanlah jatuh yang sakit rasanya
tapi bagaimanapun ia,
di dunia ini tak ada yang abadi, bukan?
(Agustus, 22 ’10)