Selasa, 12 Oktober 2010

Sekotak Teh di Kursi Taman


ia menatap akhir hari yang tertutup kemuning senja
sesekali menyisir alisnya yang berkerut sebab terkadang tidak sejalan ucap hati dan ilmu yang telah terpatri
hari ini telah jelas bahwa segala rencana tak selalu membersamai perjalanan ini

dari sebuah kursi taman yang menderit
ia menatap lelaki, menggenggam kotak merah muda
hari ini, tak jadi ia pindahkan ke tangan wanitanya

dalam sekotak teh yang sejuk
pandangi seorang bocah, memainkan jemari di atas tanah
sebab hari ini harta ayah tak cukup untuk mendudukkannya di bangku sekolah

sekotak teh di kursi taman
saksikan pemuda berjalan lelah
menggumam menyusun kata dalam jiwa
“ibu, tak sempat ragaku temukan tempatnya, esok kembali aku akan berusaha, lalu pulang dengan sepintal asa”

tapi hatinya belum jua temukan cahaya
hingga seorang panglima puisi berdiri di hadapan
ia bernasihat,
“sebab titah langit telah jelas, maka bersatulah dengan kehendakNya saja!”

(October, 12 ’10)
Baiklah, waktunya menjalankan plan B! Never give up.

1 komentar:

Syukran atas komentarnya...