Rabu, 09 April 2014

Larik-larik Harapan; diantara Pemilu dan Quick-Count yang terus dipergulirkan



Maafkan karena kefakiran ilmu saya sehingga saya hanya dapat menuliskan ini. Bukan tentang analisis politik yang tidak saya mengerti, pun tentang perdebatan atau diskusi seputar sistem  ini-itu yang lebih cukup saya simak tanpa terlibat lebih jauh. Ba’da pemilu kemarin dan setelah muncul berbagai macam hasil hitung-cepat, saya menginsyafi, bahwa perjalanan perjuangan masih panjang, dan untuk melaluinya, kita butuh bersatu, minimal bukan saling membuat jatuh. Teruntuk saudara-saudara saya yang telah menuntaskan satu fase perjuangannya lewat jalur parlemen, juga untuk saudara-saudara saya yang kemarin memilih menahan langkahnya untuk tidak ikut pemilu karena alasan apapun. Ini puisi, maka silakan ditafsirkan sendiri-sendiri. Apapun itu; nyatanya hati kita sudah terpaut dalam iman yang sama, kita tidak akan saling meniadakannya, bukan? Teriring salam cinta, selamat membaca...


Menuju TPS;
Ada langkah yang berjalan
Ada langkah yang tertahan
Keduanya nampak berbeda, meski sejatinya serupa;
Dengan dasar ilmu dan niat kebaikan, bukan sekadar taklid buta

Dan tinta di ujung jari sudah mengering
Pun ungunya telah pudar dan pergi
Mari kembali kita lanjutkan melangitkan doa
Semoga dosa Allah ampunkan, ketaatan Allah mudahkan,
Hanya atas izinNya kalimat Allah kelak tertegakkan

Setelah hiruk pikuk usai,
Mari kita kembali berkumpul bersama
Mendudukkan diri dan mendudukkan hati
Tentu bukan tak mungkin sebab kita telah bersaksi
Hanya karenaNya jalan ini kita pilih
Meski mungkin aku di lajur ini
Kau di seberangnya
Dan dia di seberangnya lagi

Kemarilah, biar kubasuhkan peluhmu
Setelah lelah ragamu, namun tentu tidak dengan jiwamu
Setelah serak suaramu, namun kuyakin tetap tegar hatimu
Maafkan, sebab tetap ada yang berbeda antara kita
Tapi dua kalimat telah kita tegakkan bersama; mengakui hanya Allah saja yang haq untuk disembah
Maka biarlah kita menatap esok dalam harapan
Tetap dalam iman, tetap dalam ukhuwah
Tenanglah, sebab apapun hasilnya, bukankah jalan ini memang dapat lebih panjang dari usia kita?

Kemarilah, biar kudekap tanganmu
Setelah kau putuskan menghentikan langkah
Bahkan saat kau gaungkan bahwa apa yang hadir hari ini bukanlah pilihan yang tepat
Atau perihal cita-cita besar yang teryakini tidak akan diraih dengan cara yang ini
Maafkan, sebab kali ini kami tidak bisa berdiam diri
Sebab ada kegelapan yang harus diikhtiarkan untuk tergeserkan
Meski tidak serta merta benderang, namun kami hanya berupaya agar tetap selalu ada cahaya yang berpendar
Tapi bukankah dua kalimat telah kita tegakkan bersama; kita mengakui Rasulullah sebagai hamba dan utusanNya
Maka biarlah kita menatap esok dalam harapan
Tetap dalam iman, tetap dalam ukhuwah
Tenanglah, bukankah sejatinya mimpi kita adalah sama?

Maka izinkan kubasuhkan peluhmu
Dan kudekap tanganmu
Ada hati yang perlu kita satukan
Ada lisan yang butuh kita lembutkan
Ada hari-hari depan yang harus kita lanjutkan, pada lorong-lorong hening, perjuangan kita masing-masing
Hari ini hanya satu dari hari-hari Allah
Perjuangan kemarin hanya satu dari medan-medan lainnya
Dan tujuan kita tetaplah ridha-Nya
Maka mari, kita lanjutkan perjalanan ini
Bukankah, masih ada cahaya yang perlu kita bagi?

Makassar, 9-10 April 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syukran atas komentarnya...