Minggu, 02 Maret 2014

secangkir teh melati di senja hari

secangkir teh melati di senja hari
memilih untuk tidak menjadi hangat

saat manusia merasa pantas untuk memutuskan;
siapa yang boleh melukainya dan siapa yang tidak boleh

saat manusia merasa mampu untuk menentukan;
kapan ia akan berjalan lurus, dan kapan ia ingin berbelok

saat manusia merasa bisa untuk menuntun hatinya
kepada kemaafan atau tetap dalam dendam

saat manusia mulai berhenti menatap malam sebagai gelap
dan matahari adalah cahaya

saat manusia merasa berhak untuk mengiriskan belati
kepada jiwanya sendiri

secangkir teh melati di senja hari
menolak butiran gula yang hendak melaruti dirinya
ia menatap nanar pada penulis puisi
yang nyaris urung menulis sajak ini
hanya karena bingung bagaimana harus mengakhiri

maka senja ini,
mari kuseduhkan secangkir teh melati
lalu kita akan berjanji
besok jika mata masih bisa terbuka dari pejamnya
kita akan membasuh hati agar lebih lembut lagi
dan tersenyum dengan lebih tulus lagi

Makassar, 1-2 Maret 2014

1 komentar:

  1. betul betul rapi sajak.ta kak..dan selalu kembali semangat kalau membacanya. :')

    BalasHapus

Syukran atas komentarnya...