sudah kukatakan untuk bersederhanalah saja
sebab jika bukan kita
masih akan tetap ada senyum pada mula waktu
dan hati yang lapang pada ujung hari
serta mata mata yang mendung oleh tangis yang mengingat alpa
pada setiap jengkal putaran dunia
apalah itu nama yang selalu ingin kita eja dan berharap akan dikenang?
apakah ini kita yang nyatanya tiada memiliki apa-apa
dan jika kita paham pada makna masa
nampaklah terlalu serius kita berpayah untuk persinggahan
dan lengah pada perjalanan panjang dan perhentian yang kekal
pandanglah gunung yang tinggi dan kelak akan terbang serupa kapas kapas
pandanglah langit yang luas yang nanti akan terputarbalikkan
pandanglah ufuk barat yang pada suatu waktu
akan terkejut saat disapa matahari terlampau pagi
pandanglah kita,
yang kelak akan pejamkan mata
yang nanti tidak akan terbuka lagi
maka pada hari dimana aku tak lagi di sini
berjanjilah untuk tetap menanam dan menumbuhkan rerimbun puisi
hatimu yang menuliskannya
langkahmu turut melanjutkannya
Makassar, 3 Maret 2014
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus