Jumat, 06 September 2013

sajak tembok apotek


kami tidak pernah berani
menyisipkan nyawa diantara serbuk pil, tablet, atau sirup obat batuk
mereka telah mati lebih dahulu
digerus lumpang yang mendekam di lemari kaca
blender yang mendesis sepanjang hari, menertawainya

kami tidak pernah belajar membaca atau berlatih bahasa
(cakar-cakar, atau ulat-ulat yang menari-nari memang bukan untuk dibaca, bukan?)
lembaran resep itu adalah surat cinta
yang kami mengerti tanpa perlu belajar mengeja

para dokter meminta kami mengambil obat dalam bungkusan plastik
kami tahu perlu memberikan doa dalam senyap yang terbetik
dalam senyum yang dikira tidak penting untuk dibalas itu
dalam terima kasih yang disangka basa-basi

kalian kira telah berhasil membeli bugar dan bahagia dengan datang kepada kami?
tidak, Tuhan-lah yang telah memberinya
atau menahannya
bahkan tanpa perlu kalian minta.

Makassar, Agustus 2013

2 komentar:

  1. bukan hanya butuh resep,,,tp juga butuh doa tuk bugar itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, mari saling mendoakan :)
      salam kenal, Jasmine
      terima kasih sudah berkunjung ke sini

      Hapus

Syukran atas komentarnya...