Selasa, 30 November 2010

semesta


di hari yang lalu

kening kita mengernyit sebab dalam beberapa saat saja, terik menyengat bisa berganti hujan deras

kau berkata,

”bumi makin tua, kawan”

tapi di langit siang ini

kulihat bersanding dengan misteri awan putih cerah

dengan gumpalan-gumpalan kelabu di atasnya

siang terlalu benderang, tapi suara gemuruh guntur menyambar-nyambar

sesekali nuansa mendung menyapa

tapi kita menjadi gerah dan menghapus berbiji keringat

mungkin

langit hanya menangkap uap-uap dari manusia yang berteduh di kolongnya

yang semakin senang untuk menggabung-gabungkan kelam dengan cahaya

menempatkan haq dan bathil dalam satu wadah

mencampurkan hitam dan putih hingga tak jelas kelabunya

tak perlulah kita menganggapnya adalah penyakit bagi negeri ini

sebab tanah kita terlampau luas untuk disusuri

sebab mungkin, semuanya bermula dari masing-masing diri

semesta hanya menjadi kaca

untuk memantulkan bayang kita yang sebenarnya

(November 30, ’10)

gambar: http://ddzihrina.files.wordpress.com/2008/10/mendung.jpg


1 komentar:

  1. benarlah manusia semakin tenggelam dengan dunia ciptaan sediri.. mengambil sistem Allah secara juz'iyah sepertimana yang mereka mau.. yang tidak menepati kehendak mereka di tinggalkan..naudhzubillah..

    BalasHapus

Syukran atas komentarnya...