
Entah sejak kapan kita mulai bersepakat dalam diam. Untuk saling sahut-menyahut lewat untaian huruf yang tak pernah terpikirkan. Sementara masing-masing tak pernah benar-benar tahu tentang arah pembicaraan sore itu, meski telah ditemani secangkir teh dan sepotong senja. Persis seperti yang pernah menggantung di langit, di atas sebuah menara.
Setelah masa yang panjang, mungkin kita telah cukup lama saling mengucap nama dalam doa. Atau tetap saja terlalu enggan pada lisan kita, lalu cukup berkata-kata lewat hati saja. Tapi di sujud-sujud itu, di malam yang hening itu, bukankah tiap denting di dalam jiwa terdengar lebih jelas hentakannya. Yah, lebih jelas terdengar.
Entahlah.
Tapi selalu kubaca bahwa ada kau yang lain di dalam setiap sajakmu. Dan bahwa entah mengapa bayang-bayang malam telah bersepakat dengan cahaya untuk tetap tak beranjak dari sini. Dari hati.
Lalu jarak seolah tak lagi berarti. Setelah masa yang panjang ini, akankah kita akan bertemu lagi?
[absolutely GeJe. Selamat Menikmati]
gambar: http://www.google.com/imgres?imgurl=http://8th.blog.friendster.com/files/golden_sunset_by_snigglefritz.jpg&imgrefurl=http://8th.blog.friendster.com/2008/12/&usg=__ceHuVVRVj4WvP2rUlR4DZ1mPEaw=&h=1067&w=800&sz=321&hl=en&start=36&zoom=1&tbnid=4h29TkEVrmexIM:&tbnh=137&tbnw=103&prev=/images%3Fq%3Dsenja%26hl%3Den%26biw%3D1280%26bih%3D584%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:10%2C953&itbs=1&iact=hc&vpx=318&vpy=63&dur=704&hovh=259&hovw=194&tx=93&ty=167&ei=LV7bTNv4II6lccG6qMMG&oei=JF7bTPHvB4LevwO4yOy4CA&esq=3&page=3&ndsp=20&ved=1t:429,r:1,s:36&biw=1280&bih=584
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Syukran atas komentarnya...