
genggaman terlepas dari tangan
saat terseret langkah yang tertatih saat menapak pada matahari sore
kuizinkan saja sajak menuai lelah
tak peduli pada mereka yang tak sampai padanya
atau yang berkerut keningnya
sebab ini memang untuk dimaknai sendiri
bukan untuk menerka perasaan siapa-siapa
maaf, ukhti
aku mungkin hanya lelah pada urusan-urusan panjang di kala siang
juga pada semua tenggat yang menghimpit ubun-ubun hingga lelah terbawa ke malamnya
bukan segalanya sibuk pada apa yang bersinar cahaya
namun kadang tak lebih sebagai apa yang hanya terhenti pada lisan saja
tapi mungkin masih cukup kuat aku untuk bertahan
maka tunggu saja aku di sana hingga aku menyusulmu datang
semoga masih cukup kuat aku untuk bertahan
bertahan untuk kecewa
bertahan untuk sadar bahwa ini memang bukan jalan yang mudah!
(May, 3 ’10)
saat terseret langkah yang tertatih saat menapak pada matahari sore
kuizinkan saja sajak menuai lelah
tak peduli pada mereka yang tak sampai padanya
atau yang berkerut keningnya
sebab ini memang untuk dimaknai sendiri
bukan untuk menerka perasaan siapa-siapa
maaf, ukhti
aku mungkin hanya lelah pada urusan-urusan panjang di kala siang
juga pada semua tenggat yang menghimpit ubun-ubun hingga lelah terbawa ke malamnya
bukan segalanya sibuk pada apa yang bersinar cahaya
namun kadang tak lebih sebagai apa yang hanya terhenti pada lisan saja
tapi mungkin masih cukup kuat aku untuk bertahan
maka tunggu saja aku di sana hingga aku menyusulmu datang
semoga masih cukup kuat aku untuk bertahan
bertahan untuk kecewa
bertahan untuk sadar bahwa ini memang bukan jalan yang mudah!
(May, 3 ’10)
Semangat de'
BalasHapusAlhamdulillah psn yg trsirat dari rangkaian kata yg engkau susun dlm bait-bait sajakmu sll bs dimaknai. Tanpa harus brkerut kening atau kulit diats jidat :)
Stdkx u/pribadi kk yg minat pd sastra wlu saat ini hnya smpai pd titik suka menikmatix.
Alhamdulillah...
BalasHapusSelamat menikmati, kak..