Kamis, 04 Februari 2010

di persimpangan jalan


ada bunga mawar yang merah
kupetik untuk bunda di rumah

alunan yang disertai kerikil
aku tak mampu untuk tetap membatu
saat senjamu datang dan kau tersenyum
katamu, kau tetap hidup

sekuntum bunga-bunga yang menyapa sinar mentari membentuk wajahmu
dan hadirnya menjelma angin yang mengalir ke paru-paru mencipta nuansa gerimis senja di salah satu ufuk
gerimis itu, mengeja kembali katamu:
”kasihku adalah sinar surya yang tak habishabis meski dirundung pekat”
dan dari sana kutengok hatiku, dan semakin yakin bahwa tak akan terbayarkan utangku padamu

ibu, sebuah syair bercerita kisahmu
segenggam sajak ucapkan kata-kata rindu
puisi-puisi berbaris memasrahkan diri dan menari di sekelilingmu
tapi kata-kata rupanya tak mampu gambarkan semua itu

sebab musim bunga di matamu adalah niscaya
bahwa keberadaanku di sana bukanlah pilihan
tapi suratan yang telah digores kalam bahkan sebelum bumi tercipta

biar saja waktu berganti
dan hari berlalu disusul masa yang lain
tapi tetap tak akan berubah, khan?
kau tetap berdiri di sana
menunjukkan pintu syurga yang paling tengah
dengan doa yang terpanjat setelah pertemuan agung dengan Allah

ibu, betapa tiap persimpangan itu,
kucoba bawakan bunga mawar itu untukmu
teruntuk : bundaku


(pertama kali di tulis pada 30 september 2004, ditulis ulang dengan beberapa perbaikan pada 5 februari 2010)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syukran atas komentarnya...