Sabtu, 20 Juni 2009

Perempuan di Tiga Masa


1/3
Terjerat arus ketamakan hidup
Teruntai dalam tiap detik yang sisakan senyum paling pahit
Berderai pada kata takdir, antarkan pada masa, ciptakan tiap desah dengan kalimat nyata: pancangkan diri dalam derai waktu
Lalu memandang langit dan rindu pada buah hati yang tak kunjung datang menjenguk

2/3
Terbaring pada selimut kesabaran
Coba artikan tiap sakit yang ia harap telah jatuhkan daun ke buaian tanah, bergugurannya dosa-dosa
Mengayun-ayun kenangan pada masa saat raga masih dapat berdiri tegak
Lalu memandang langit dan rindu pada ibu yang jauh di sana

3/3
Melangkah pada tiap detak nafas
Merangkai tiap huruf dan menyimpannya sebagai kenang
Menyaksikan putaran skenario kehidupan yang telah tersusun dengan sempurna
Lalu memandang langit biru, kembali mengucap doa sejak sebelas tahun lalu, dan bertanya pada hati; mengapa tak ada rindu padamu?

Perempuan di tiga masa
Mengayun tiap peluh dengan makna yang berbeda
Namun ketiganya tetap sama saja
Mereka mencoba bertahan
Mereka mencoba bertahan.
(makassar,18 Juni 2009)

”Untuk nenek, ibu, dan aku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syukran atas komentarnya...