sebuah puisi
untuk seseorang yang manis di Negeri Sakura sana. Membaca e-mailmu yang
terakhir, aku disergap rindu. Maka kupeluk kau lewat ini saja. Terasa
hangatkah?
padamu kulihat cahaya
; kepada ukhti Nurmayanti Zain
saat kubaca kekatamu dalam sepucuk rindu
maka terbersitlah tanya yang telah kugumam jawabnya
“mengapa kita harus berjumpa?”
maka akan kita ulang kembali setiap pertemuan yang telah tertakdir
dari saling memandang wajah
hingga berbincang dan menjenguk hati
lalu selalu begitu
padamu, kulihat cahaya
lalu setelah tiap langkah berpeluh, dengan air mata, dengan bercampur peluh
bahkan hingga kau terbang ke tanah yang jauh
bukankah telah selesai kita insyafi
di bumi manapun itu,
maka sujud ini, hidup ini, mati ini,
hanya untukNya saja, ukhti
saat kubaca kekatamu dalam sepucuk rindu
kumaknai lagi tiap pribadi yang memiliki warnanya sendiri
maka kita mencipta pelangi
bahkan setelah panas menyengat berganti langit kelam, lalu hujan turun tanpa ampun
maka kita mencipta pelangi
kulihat itu pada senyummu yang kucoba kenang lagi
kepadamu, wahai Putri Cahaya
taukah betapa aku akan terus percaya
bahkan meski gelap telah berlapis-lapis kelamnya
kau akan terus kemilau, bersinar!
(Makassar, November 13 '12)
padamu kulihat cahaya
; kepada ukhti Nurmayanti Zain
saat kubaca kekatamu dalam sepucuk rindu
maka terbersitlah tanya yang telah kugumam jawabnya
“mengapa kita harus berjumpa?”
maka akan kita ulang kembali setiap pertemuan yang telah tertakdir
dari saling memandang wajah
hingga berbincang dan menjenguk hati
lalu selalu begitu
padamu, kulihat cahaya
lalu setelah tiap langkah berpeluh, dengan air mata, dengan bercampur peluh
bahkan hingga kau terbang ke tanah yang jauh
bukankah telah selesai kita insyafi
di bumi manapun itu,
maka sujud ini, hidup ini, mati ini,
hanya untukNya saja, ukhti
saat kubaca kekatamu dalam sepucuk rindu
kumaknai lagi tiap pribadi yang memiliki warnanya sendiri
maka kita mencipta pelangi
bahkan setelah panas menyengat berganti langit kelam, lalu hujan turun tanpa ampun
maka kita mencipta pelangi
kulihat itu pada senyummu yang kucoba kenang lagi
kepadamu, wahai Putri Cahaya
taukah betapa aku akan terus percaya
bahkan meski gelap telah berlapis-lapis kelamnya
kau akan terus kemilau, bersinar!
(Makassar, November 13 '12)
like..
BalasHapussemoga..maya baik-baik saja disana..
dina juga..semoga kabarnya baik..
:)
Subhanallah! Tabaarakallahu Ta'ala...
BalasHapusEntah bagaimana mengatakannya, tapi ini sangat manis. Suka sekali, ukhtayya <3 membuatku begitu hangat dalam dekapan ukhuwah yang tak terpisah jarak.
Insya Allah, semoga bisa selalu istiqomah. Dan untukmu juga ukhtifillah, tetap istiqomah ya! Barakallahu fiik wa yassarallahu umuurakum.
KAKAAAAK, follow blog Aya dong http://riahidayah.blogspot.com/, Aya udah follow blognya yaaa.. ^_^ apik
BalasHapus