Minggu, 25 Desember 2011

lelaki bernama laut


Lelaki bernama laut/ melangkah menyusuri jalanan yang lengang/ saat begitu banyak yang terlelap di tengah malam/ sebuah pintu tidak sengaja terbuka baru-baru saja/ dan ia rasa, di sanalah saat yang tepat untuk beranjak/ meski perih di dada kiri terus ikutinya

Lelaki bernama laut/ menatap seorang pemulung yang tertidur di samping gerobaknya/ di dalam gerobak, anaknya memejamkan mata; tenang/ tidak ada yang tahu, nyawanya telah hilang/ siang tadi, ditabrak sebuah mobil mewah yang membeli kebebasannya dengan lembaran rupiah/ lalu, sang pemulung bahkan harus bingung dimana menguburkan ananda/ sebab kematian pun ternyata menuntut harta/ sedang ia tidak berpunya/ lelaki terus melangkah/ meski perih di dada kiri terus ikutinya

Lelaki bernama laut/ kini menyusuri bibir pantai/ menatap camar yang terbang membentuk pemandangan di langit malam/ angin berembus memainkan anak rambutnya/ ia masih terus bertanya, apakah ikan-ikan ikut tertidur jua?/ pun dengan batu karang yang nampak begitu garang/ ternyata di tengah malam, ia terlihat kesepian/ lelaki terus melangkah/ merasakan hangat pasir pantai yang menelusupi telapak kaki/ meski perih di dada kiri terus mengikuti

Lelaki bernama laut/ berhenti pada suatu titik/ di hadapan luasnya langit yang kini kelam/ ia berbisik dengan lirih/ hey, kau.../ yang terus berdetak tanpa kupinta/ yang terus berdetak di kala aku tidur/ di kala aku sedih/ di kala aku marah/ di kala aku bahagia/ di kala aku jatuh cinta/ bagaimana bisa aku percaya pada mereka/ bahwa kau akan segera membuatku kehilangan nyawa?

gambar:devianart.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syukran atas komentarnya...