
Ada masa dimana kita merasakan getaran hati yang amat kuat
Lalu oleh pikiran yang serba cepat kita menamakannya; CINTA
Tapi benarkah?
Benarkah saat seseorang terus terbayang di hati, maka ia disebut cinta
Betulkah bahwa getaran merindu pada sosoknya bersifat sejati adanya?
Apakah kesenangan yang diraih saat ternyata ia juga memendam 'rasa' yang sama adalah bukti timbulnya kasih sayang?
Hmm...
Mungkin ada baiknya jika tidak terburu-buru kita menyimpulkan demikian!
Kawan,
Mungkin ada masa dimana kita merasa berbunga-bunga saat seseorang menyatakan 'cinta' nya (ps; saat menyebutkan kata CINTA sebaiknya orator sambil memberi isyarat jari: 'dalam tanda petik')
Lalu kemudian ia menawarkan untuk sebuah hubungan yang diwarnai dengan merah muda
Saat malam-malam dilalui dengan telepon dengannya hingga larut
Belum lagi dengan segala pesan-pesan romantis agar engkau tersenyum
Diantar jemput pun tidak pernah terlewat
Hingga dunia serasa hanya milik berdua
Dan tak ada lagi tempat yang tersisa untuk makhluk lainnya
Tapi, kawan..
Dapatkah disebut cinta jika ternyata seringkali ia hanya melalaikan?
Lalu bukankah segenap kata hati juga akan dimintai pertanggungjawaban?
terlebih lagi segala laku fisik yang menghadirkan gelisah di jiwa, sebab ia telah khilaf dari fitrahnya yang suci, bebas dari segala nista sebab tak terpehatikannya perintah Allah
Kawan,
Lihatlah dirimu dari ujung kaki hingga rambutmu
Lihatlah berbagai hal di sekitar ragamu
Tidakkah nampak berbagai macam nikmat di sana?
Nikmat mata yang dapat melihat indahnya dunia
Nikmat jantung yang berdetak tanpa kita perintah
Nikmat menikmati wangi bunga-bunga
Lalu melangkah ke berbagai tempat yang teramat indah...
Udara gratis untuk kita hirup
Mentari yang terus berbagi hangat
Dan rintik hujan yang menyejukkan
Air yang terus mengalir dan menuntaskan haus
Hewan-hewan, dan tumbuh-tumbuhan yang ditundukkan untuk memenuhi segala hajat hidup
Fa bi ayyi ala i rabbi kuma tikadzdzibaan...!
Fa bi ayyi ala i rabbi kuma tikadzdzibaan...!
Fa bi ayyi ala i rabbi kuma tikadzdzibaan...!
Nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan?
Lalu atas berbagai nikmat itu kawan, tidakkah muncul bukti CINTA yang sebenarnya?
Tidakkah tergambar betapa cintaNya-lah yang hakiki adanya?
Tidakkah seharusnya ia pun terbalas dengan cinta dari kita?
Cinta yang suci,
Menenangkan hati,
Berbuah amal terpuji,
Hanya kepada Ilahi…
Seperti saat Ibrahim rela menyembelih Ismail sebab taatnya pada Allah, sebab ia Cinta
Seperti Sumayyah yang rela syahid sebab mempertahankan keyakinannya, sebab ia Cinta
Seperti Bilal yang tak peduli berbagai siksa, lalu berucap “Ahad!” , sebab ia Cinta
dan Seperti Rasulullah yang terus berjuang hingga hembus akhir nafasnya, sebab ia teguh mengemban risalah; sebab ia Cinta
Bahkan, saat cinta pada Allah tak dapat kita beri sempurna, Allah tetap karuniakan berbagai nikmat yang dengannya tak mampu kita berdusta; sebab Allah Cinta!
Kawan,
Hati-hati tertipu dengan nafsu merek CINTA
Sebab bungkusannya memang indah namun akan terasa pahit sebenarnya
Jika pahitnya tak terasa di dunia, maka kelak kita tak akan terluput dari pahitnya perhitungan di yaumil hisab
Maka, masih adakah alasan untuk berpaling dari cintaNya?
Maka kawanku, kembalilah kepada cinta hakiki
Cinta pada Allah
Cinta karena Allah
Itu saja.
(Februari, 9 '11)
---------------------------------------------------------------------
*dibacakan dalam Seminar Muslimah 'Harmoni Cinta', 13 Februari 2011 di SMF Yamasi
sumber gambar
