Biarlah dinding dan tembok itu yang jadi saksi, kawan.
saat kau ceritakan padaku tentangnya yang merindu bau syurga
yang ingin bersegera tinggalkan dunia
maka kukatakan,
langkahnya adalah sebuah pikiran panjang yang sulit kau patahkan
sebab mungkin ia terlampau khawatir saat hari itu tiba
lalu ditanyakan padanya tentang ilmu,
tentang jasad,
tentang hati yang telah tergerak
tak usah kau tahan ia tiba di sana
sebab takdir adalah saat telah terjadi di depan mata
dan mungkin,
takdirnya adalah bidadari bermata jeli
dan tekdirmu adalah lelaki dengan awan teduh di kedua korneanya
biarlah waktu yang menjawab
dan biarlah dia bersiap di perbatasan
hingga tuntas citanya
hingga terbit senyum terakhirnya,
ucapkan padanya pesan dariku,
"pemuda, berangkatlah.
jika syahid kau temukan
sampaikan salamku pada bidadari syurga"
dan izinkan saja langit sore serta bulir hujan ini yang menyaksikan
saat kau bertanya,
"lalu apa yang harus kujawab?"
maka diamlah sejenak,
sebab akan kubagi caranya untuk memilih,
sebab hartanya,
nasabnya,
parasnya,
lalu imannya
maka lihatlah dengan hati yang hening
hingga kau temukan jawab yang berpendar
ingatkan pada masa depan yang tertutup selubung tanya
tapi tenanglah, sebab akan terjadi yang terbaik untuk semua
kau percaya?
maka, percayalah...
"buat dua orang kawan yang telah percaya buat curhat sama saya... maaf yah, saya terlalu teoritis, tapi semoga bermanfaat, semoga ditunjukkan jalan yang terbaik. ^__^"
gambar: http://middlezonemusings.com/wp-content/uploads/2008/02/love-letters.JPG


