
Tidak usah seharusnya aku mengaku sebagai adik!
Jika ternyata air matamu tak sanggup kuseka
Dan tak kudengar perciknya saat jatuh ke tanah
Saat kita bercerita tentang jalan cinta yang terkadang tak sesuai dengan nuansa yang kita pinta
Dan mengapa harus kau yang melaluinya?
Dan aku tidak ingin lagi berucap tentang dandelion
Tidak juga tentang warna langit
Atau semua kenangan yang disaksikan oleh tembok-tembok bisu tempat kau pertama kali mengenalkan aku pada senja di beranda itu
Sebab kau tuntun untuk lalui siang dalam sebuah lingkaran tempat sayap malaikat dinaungkan
Dan saat dosa-dosa diampunkan
Ini bukan hanya tentangmu
Tapi tentang sebuah perjalanan panjang yang kau mulai bersama langkah mantap yang lain
Juga tentang langkah setelahmu yang sesekali melongok ke depan, memastikanmu masih ada di sana
Bahwa bukan di sini tempat kita menyerah
Meski awan-awan itu telah menjadi saksi sebuah perjumpaan yang sejatinya adalah ketukan awal pengingat perpisahan
Meski untuk jiwa yang paling tidak ingin sekalipun
Sebab bukan kita penentu rangkai kisah dalam langkah ini
Tapi tak jujurlah diri jika tidak berkaca mataku, saat kusadar mungkin ini adalah akhir dari pertemuan awal itu.
Kak,
Maaf untuk raga yang tak ada saat kau butuh
Dan jemari yang tak datang saat air matamu jatuh
Juga hati yang tak sadar pada usikan saat hatimu beku
Tapi adalah kita yang telah tertanam sekat-sekat cahaya pada jiwanya
Cahaya itu berkata,
Mungkin, kita saja yang belum melihat pelangi
Sehabis tersaput hujan
Lalu terlalu tergesa mengutuki mendung
Yang akan segera berganti cerah
Semoga.
Untuk Kak Aisyah… Uhubbikifillah!
Jika ternyata air matamu tak sanggup kuseka
Dan tak kudengar perciknya saat jatuh ke tanah
Saat kita bercerita tentang jalan cinta yang terkadang tak sesuai dengan nuansa yang kita pinta
Dan mengapa harus kau yang melaluinya?
Dan aku tidak ingin lagi berucap tentang dandelion
Tidak juga tentang warna langit
Atau semua kenangan yang disaksikan oleh tembok-tembok bisu tempat kau pertama kali mengenalkan aku pada senja di beranda itu
Sebab kau tuntun untuk lalui siang dalam sebuah lingkaran tempat sayap malaikat dinaungkan
Dan saat dosa-dosa diampunkan
Ini bukan hanya tentangmu
Tapi tentang sebuah perjalanan panjang yang kau mulai bersama langkah mantap yang lain
Juga tentang langkah setelahmu yang sesekali melongok ke depan, memastikanmu masih ada di sana
Bahwa bukan di sini tempat kita menyerah
Meski awan-awan itu telah menjadi saksi sebuah perjumpaan yang sejatinya adalah ketukan awal pengingat perpisahan
Meski untuk jiwa yang paling tidak ingin sekalipun
Sebab bukan kita penentu rangkai kisah dalam langkah ini
Tapi tak jujurlah diri jika tidak berkaca mataku, saat kusadar mungkin ini adalah akhir dari pertemuan awal itu.
Kak,
Maaf untuk raga yang tak ada saat kau butuh
Dan jemari yang tak datang saat air matamu jatuh
Juga hati yang tak sadar pada usikan saat hatimu beku
Tapi adalah kita yang telah tertanam sekat-sekat cahaya pada jiwanya
Cahaya itu berkata,
Mungkin, kita saja yang belum melihat pelangi
Sehabis tersaput hujan
Lalu terlalu tergesa mengutuki mendung
Yang akan segera berganti cerah
Semoga.
Untuk Kak Aisyah… Uhubbikifillah!
keren..subhanalloh.....
BalasHapusadikku sayang (tak mengapa aku menyebutmu adik, karena memang ngkau adikku),..kita tidak terpisah, hati kita tetap satu,.. hanya saja kita dipisahkn oleh jarak. aku tau, namaku masih ngkau sebut dalam doamu,. itu sesuatu yang sangat berharga bagiku..
BalasHapusmendung akan berganti cerah, dan cahaya itu tetap ada, tetap bersinar,. karena ku masih disini, bersamamu, bersama kalian,.. uhibbuki fillah..
@muslimah; janganki membaca sambil menangis ukhti...hihihi...
BalasHapus@kak aisyah; syukram sudah berkunjung kak..hiks...hiks... ahabbakilladzi ahbab tanilahu...
muslimah> pa kabar dek?
BalasHapusrifa'ah> tidak menangisji tawwa, tersedu-sedu ji
ih kak 'aisyah,,,berkunjungki jug ke blog ku... rifa'ah..tanyaki blogku..hhhee....
BalasHapuskak 'aisyah we miss u... hhuuu
kenapaki nda balas smsku??
suratku dah dibacaji?? afwan ya kalau suratku terlalu keren..hhhaaaa ^^