
pernah ada waktu saat ukhuwah memeluk kita, erat
dan jarak antara kita melampaui kerinduan malam atas hadirnya bulan
atau seperti tanah kering disapa pucuk-pucuk hujan pertama dalam sebuah musim
dan kita menatapnya lewat beranda kecil di sebuah sudut
tempat sebelumnya berpasang mata juga menikmatinya di tempat itu
seingatku, dulu
kita sering saling menyeka air mata masing-masing
tapi tidak dengan sapu tangan atau jemari
tapi dengan hati dan tatap penuh arti
dan aku rindu
lalu kini
aku hanya mencoba kembali mengulang
sebuah salam perpisahan saat kulangkahkan kaki menuju medanku, meninggalkan kau dalam langkahmu
tapi kita telah sama-sama memaklumkan jiwa,
bahwa layaknya pertama kali kita memilih jalan ini
seperti itu pula akan terus berusaha kita susuri
hanya saja kadang ia bercabang
tapi tetap kita saling berjanji berjumpa di penghujungnya
di syurga, insya Allah
aku hanya melihat semburat cahaya dari matamu, ukhti
lalu jika kau bertanya mengapa aku ikut bahagia
maka kujawab;
sebab Allah yang mempertemukan kita
dan menyatukannya dalam dekap ukhuwah
maka berjanjilah akan menyimpan satu hamparan untuk kami dalam hatimu
karena juga selalu ada tempat dalam jiwa; yang ada namamu di sana.
(December 12, ’10)
buat ukhti Syifa satu kata saja, cukup untuk mentranslate senyum misteriusmu akhir-akhir ini ukh! ^_^
gambar: http://scienceblogs.com/neurotopia/coffee%20love.jpg