
pada sebuah perjumpaan hangat di pagi hari
saat sinaran mentari menemani langkah cepat kita
menapaki satu demi satu anak tangga
sedikit terengah melepaskan tali sepatu dengan sekali hentakan
lalu berlari dengan senyum yang telah siap di sunggingkan
"assalamu alaikum, saudariku!"
aku hanya rindu
untuk duduk-duduk di beranda
menatap sepotong langit biru
di kali lain ia terlihat kelam
lalu kita ulurkan tangan
menyambut bulir-bulir hujan yang turun satu-satu
yang lain tetap duduk beralas sarung kotak-kotak
selanjutnya ia memanggil,
"majelisnya akan dimulai sebentar lagi!"
aku hanya rindu
menarikan jemari pada selembar kain pemisah berwarna biru
terbentang dengan teguh
bersama lemari kayu
bersama lipatan mukenah itu
bersama lantai-lantai yang sejuk
sang hijab menjadi saksi
dulu kita berkumpul di sana
kini kita berkunjung kembali
suatu saat,
di tempat yang lebih baik kita bertemu lagi.
(Agustus, 26 '10))
